Riset F5 Ungkap 75% Konsumen Tak Hiraukan Kebocoran Data

Riset F5 Ungkap 75% Konsumen Tak Hiraukan Kebocoran Data

Jakarta, Tristach.info – Laporan terbaru F5 yang bertajuk Curve of Convenience 2020: The Privacy-Convenience Paradox mengungkap 43% konsumen Asia Pasifik berharap perusahaan melindungi data mereka, dengan 32% responden meyakini hal tersebut tanggung jawab pemerintah. Sementara lebih dari sembilan dari sepuluh orang (96%) memilih kenyamanan dan pengalaman pengguna yang mulus dan tanpa gangguan daripada keamanan.

Temuan-temuan ini mengungkapkan beratnya upaya yang harus dilakukan untuk menemukan keseimbangan antara keamanan dan kenyamanan di mana perusahaan dan pemerintah memikul tanggung jawab.

Di lingkungan yang menantang seperti saat ini, khususnya ketika tengah menghadapi COVID-19 serta mengikuti perubahan kebiasaaan digital yang menyebabkan banyak sistem dan penggunanya terekspos, perusahaan dan pemerintah pun ditekan untuk memperkuat kerangka keamanan mereka dan memperketat regulasi serta kepatuhan terhadap kebijakan.

Menurut pakar industri, Ankit Saurabh, Assistant Lecturer di School of Engineering and Technology, PSB Academy, “Dengan COVID-19 yang mengubah banyak aspek rutinitas, sebagian besar dari kita telah beradaptasi menuju kenormalan baru yang melibatkan working-from-home hingga aplikasi online untuk perbankan, hiburan, belanja, dan layanan antar makanan yang telah menjadi cara utama kita mengakses barang dan jasa. Dalam situasi yang krusial seperti ini, perusahaan-perusahaan harus bekerja dengan lebih keras dalam membenahi kekuatan keamanan mereka untuk melindungi data pelanggan dan internal perusahaan.”

Agar terus bisa kompetitif dalam kondisi seperti ini, berbagai perusahaan harus terus menyediakan pengalaman digital yang unik, berperforma tinggi, dan aman secara konsisten sembari memenuhi persyaratan dan kewajiban keamanan yang rumit. Mereka juga harus memastikan pengalaman pengguna yang nyaman, mulus, dan mudah digunakan. Guna mencapai tujuan ini, perusahaan-peruashaan harus berkaca pada sumber daya yang belum mereka sentuh, yakni para pelanggan.

Laporan Curve of Convenience 2020 menunjukkan, 27% responden bahkan tidak menyadari terjadinya pembobolan pada situs pemerintah atau aplikasi yang banyak digunakan. Sehingga, sangat penting untuk memperlakukan pelanggan seperti sekutu dalam mencapai tujuan bersama untuk pengalaman digital yang menyenangkan dan aman.

Pengguna, jika dibekali dengan informasi yang tepat, bisa meningkatkan kewaspadaan mereka untuk berbagi data atau bahkan menuntut transparansi mengenai bagaimana data mereka akan digunakan.

“Sangat penting bagi para perusahaan-perusahaan untuk membekali tenaga kerja mereka dengan skill yang diperlukan, selain melibatkan pelanggan dalam perjalanan keamanan-kenyamanan ini untuk menghentikan ancaman siber,” kata Saurabh.

“Di saat pandemi mengubah hidup kita, perusahaan-perusahaan harus meningkatkan upaya transformasi digital mereka. Konsumen menuntut lebih banyak dari aplikasi yang biasa mereka gunakan untuk bermain, bekerja, dan terhubung,” kata Adam Judd, Senior Vice President, Asia Pasifik, China, dan Jepang di F5.

“Untuk mengintegrasikan kenyamanan dan keamanan, perusahaan-perusahaan harus melibatkan pelanggan secara proaktif di semua tahap pengembangan aplikasi, bukan hanya pada akhirnya saja. Khususnya, di masa ketika konsumsi aplikasi dan rentannya keamanan terus meningkat dari hari ke hari. Bermitra dengan pelanggan berarti industri akan semakin tumbuh, dan perusahaan, bersama mitra digital mereka, bisa menciptakan solusi yang lebih baik untuk pengalaman mulus dan aman, kapan saja, setiap saat. Pada akhirnya, menunjukkan pada pengguna apa yang dipertaruhkan akan membuat mereka merasa harus terlibat untuk melindungi dirinya sendiri.”

Di saat pelanggan memilih untuk menyerahkan tanggung jawab keamanan digital ke perusahaan dan pemerintah, sangat penting bagi perusahaan untuk terus mengedukasi dan bermitra dengan pengguna mengenai konsekuensi pilihan untuk mengorbankan data atau privasi demi pengalaman yang lebih mulus. Dengan kemitraan ini, perusahaan bisa dengan mudah memanfaatkan solusi teknologi yang lebih canggih untuk mengimplementasikan keamanan yang lebih kokoh sambil memberikan pengalaman tanpa friksi yang diharapkan konsumen.

Sorotan Laporan

• Sebagian besar konsumen Asia Pasifik menyerahkan tanggung jawab keamanan ke perusahaan dan pemerintah. Sebanyak 43% responden di Asia Pasifik dan 57% di Indonesia meyakini tanggung jawab ini terletak di tangan perusahaan. Sementara 32% di Asia Pasifik dan 23% di Indonesia merasa hal tersebut adalah tanggung jawab pemerintah. Hanya 25% responden Asia Pasifik dan 20% di Indonesia yang merasa tanggung jawab keamanan terletak di tangan penggunanya.

• Sebanyak 69% pengguna di Asia Pasifik, rata-rata, mengorbankan privasi mereka demi pengalaman yang lebih baik. Responden dari Indonesia (79%), China (82%), dan India (79%) tercatat sebagai yang paling rela berbagai data. Sedangkan responden Jepang (43%), Australia (50%), dan Singapura (58%) adalah yang paling tidak rela mengorbankan data demi pengalaman yang mulus.

• Lebih dari seperempat pengguna tidak menyadari terjadinya pembobolan. Sebanyak 27% responden Asia Pasifik mengindikasikan mereka tidak menyadari terjadinya pembobolan meski yang menjadi sasarannya adalah instansi pemerintah atau aplikasi yang banyak digunakan.

• Pengguna di masa kini tidak mengubah perilaku mereka setelah terjadi pembobolan keamanan namun kepercayaan mereka terhadap perusahaan dan industrinya menurun. Hanya 4% responden Asia Pasifik, demikian pula dari Indonesia, berhenti menggunakan aplikasi setelah terjadi pembobolan. Namun, terjadi penurunan kepercayaan terhadap perusahaan, dengan perusahaan media sosial mengalami penurunan terbanyak yakni 19 poin persentase.